Wednesday, May 2, 2012

Mengurangi Diabetes Dengan Makan Buah dan Sayur


Mengurangi Diabetes Dengan Makan Buah dan Sayur - mengonsumsi lebih banyak buah dan sayuran mungkin memiliki risiko lebih rendah untuk terserang diabetes tipe 2 dibandingkan dengan orang yang kurang mengonsumsi keduanya.

Selain itu, mengonsumsi beragam makanan yang sehat itu juga mungkin menjadi kunci untuk menghindari penyakit, demikian hasil satu studi di Inggris.

Temuan tersebut, yang dilaporkan di jurnal Diabetes Care, tak membuktikan bahwa memakan buah dan sayuran akan menjauhkan kondisi yang berkaitan dengan kegemukan dan usia tua. Tapi para peneliti mengatakan itu bisa memberi orang lebih banyak manfaat guna meningkatkan makanan mereka.

Studi atas lebih dari 3.700 orang dewasa Inggris mendapati mereka yang mengonsumsi paling banyak buah dan sayuran dalam satu pekan memiliki risiko lebih rendah untuk terserang diabetes tipe 2 selama kurun waktu 11 tahun dibandingkan dengan orangyang mengonsumsi paling sedikit.

Risiko diabetes juga lebih rendah di kalangan orang yang mengonsumsi lebih banyak jenis buah dan sayuran, tak peduli berapa banyak mereka konsumsinya.

Itu menunjukkan orang bukan hanya mesti memusatkan perhatian pada berapa banyak porsi yang mereka konsumsi setiap hari, kata peneliti senior Nita Forouhi, dari Institute of Metabolic Science di Cambridge, Inggris.

"Temuan tentang keragaman konsumsi adalah sesuatu yang baru dan menggembirakan, karena itu memperlihatkan bahwa terlepas dari jumlah yang dikonsumsi, kita memiliki potensi untuk meraih tambahan manfaat penting dari memilih campuran beragam buah dan sayuran sebagai bagian dari makanan yang seimbang," kata Forouhi.

Satu porsi sama dengan setengah cangkir sayuran yang dimasak atau satu potong ukuran sedang buah segar.

Untuk studi tersebut, tim Forouhi meneliti data dari 3.704 orang dewasa yang berusia 40 sampai 79 tahun yang menjadi bagian dari studi lebih luas mengenai gizi dan penyakit kronis, demikian laporan Reuters, Jumat (27/4). Di antara orang itu, 653 terserang diabetes tipe 2 selama kurun waktu 11 tahun.

Semua peserta studi tersebut mempertahankan konsumsi produk susu selama satu pekan pada awal studi, dan tim Forouhi mendapati mereka yang melaporkan konsumsi beragam buah dan sayuran menghadapi risiko lebih kecil untuk terserang diabetes selama satu tahun ke depan.

Di antara sepertiga peserta yang paling banyak mengonsumsi buah dan sayuran --yaitu sebanyak enam porsi per hari-- 16 persen didiagnosis terserang diabetes tipe 2 dibandingkan dengan 21 persen dari seperti peserta dengan konsumsi buah dan sayuran paling sedikit, sekitar dua porsi per hari.

Kelompok yang mengonsumsi sedikit buah dan sayuran sangat dekat dengan pola makan di AS.

Tentu saja, orang yang memakan banyak buah dan sayuran mungkin berbeda dalam sejumlah kondisi, kata Forouhi, termasuk berat, tingkat olah raga, kebiasaan merokok dan pendidikan.

Namun ketika timnya memperhitungkan semua faktor itu, konsumsi buah dan sayuran dalam jumlah banyak tetap saja berkaitan dengan 21 persen risiko lebih rendah untuk terserang diabetes tipe 2.

Penelitian tersebut menemukan pola yang serupa ketika sampai pada keragaman. Orang yang mengonsumsi 16 jenis buah dan sayur yang berbeda setiap pekan, secara rata-rata, memiliki kemungkinan 40 persen lebih kecil untuk terserang diabetes dibandingkan dengan orang yang rata-rata mengkonsumsi delapan jenis.

Variasi mungkin menjadi penentunya sebab itu membantu memastikan orang memperoleh banyak gizi. Itu meliputi bukan hanya vitamin dan mineral, tapi juga serat dan zat sayuran yang disebut "phytochemical" yang diduga membantu melindungi sel dari kerusakan sehingga dapat mengarah kepada penyakit kronis.

Untuk memperoleh variasi yang bagus, Forouhi menyarakan orang memasukkan warna ke dalam khasanah buah dan sayuran. Tapi itu semua harus menjadi bagian dari pola hidup yang sehat.